Selasa, 24 Februari 2026

Selamat malam

Rentang waktu setelah pulang kantor hingga pukul sepuluh malam adalah masa yang sangat rawan, rawan akan kecelakaan memori. Sebuah kecelakaan akibat runtuhnya ingatan-ingatan getir yang seharusnya terkunci rapat. Situasi ini kian pelik saat media sosial turut memperdaya; algoritma yang seolah kian mafhum akan isi kepala dan apa pun yang kita rasa, memaksa kita untuk tetap tenggelam dalam pusaran memori pahit itu. Dan celakanya, siklus bodoh ini berulang puluhan hingga ratusan kali.

​Istirahat selepas bekerja kerap menjadi alasan klise untuk membiarkan rutinitas itu terus berputar. Ia menjadi kambing hitam atas gelapnya kegetiran masa lalu; ia menjelma biang kerok yang nyata.

​Begitulah sekelumit omong kosong yang melintas di benak saat layar gawai menunjukkan pukul 22.33. Seorang pemuda beranjak dari kasurnya, mengumpulkan sisa-sisa kesadaran setelah pergulatan batin tersebut. Ia membuka pintu kamar kos, melangkah ke teras, lalu menyulut sebatang rokok. Tak sampai lima belas menit, rokok itu tandas. Ia kembali masuk, menutup pintu, lantas membersihkan diri, bersiap menenggelamkan diri dalam kantuk yang sebenarnya sudah ia rasakan sejak masih di kantor tadi.

​Namun, sebelum terlelap, ia membatin, "Besok, aku akan menjalani hari yang berbeda dari hari ini."

​Selamat malam.