Tampilkan postingan dengan label NDLEMING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NDLEMING. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2026

Seporsi Kemenangan

Tidak ada porsi kekalahan hari ini. Yang tersajikan kali ini adalah seporsi kemenangan. Bentuk kemenangan yang sering kali dan sampai saat ini menjadi agenda rutin ketika pulang ke Ngawi dengan bus.

​Soto Terminal Gendingan menjadi checkpoint yang penting dalam perjalanan pulang kampung saya. Tidak hanya menandai bahwa sebentar lagi akan disambut udara dingin, sawah hijau, Gunung Lawu yang ngawe-awe, dan suasana yang hening. Namun, ini menjadi mukadimah bahwa kemenangan dalam perjalanan sebentar lagi ada di genggaman. Soto Terminal Gendingan tak ubahnya seperti welcome drink versi saya, sebuah gladi bersih bagi perut sebelum dihajar kelezatan masakan ibu selama beberapa hari ke depan.

​Sebagai patokan, jika Anda datang dari arah timur (jalur Surabaya-Solo), setelah turun dari bus Anda bisa langsung berjalan kaki masuk melalui akses pintu keluar Terminal Gendingan. Di sebelah kiri atau di sisi utara, Anda akan menemukan deretan ruko. Warung soto ini menempati ruko kedua dari arah barat. Ciri-cirinya sangat mudah dikenali, yakni bangunan berwarna hijau dengan spanduk yang membentang di bagian depannya.

​Entah apa yang membuat soto ini selalu menjadi pilihan ketika saya transit di pemberhentian Terminal Gendingan. Saya rasa soto ini memiliki sisi magis tersendiri bagi saya. Entah kenapa, setelah turun dari bus, lidah dan perut sepertinya selalu mufakat untuk mengajukan proposal ke otak dengan menyerukan, "Wayahe, wayahe, lur!"

​Saya tidak berniat untuk hiperbola atau meromantisasi kegiatan remeh-temeh ini. Hanya saja, saya ingin menyampaikan kepada kawan, kamerad, bung, dan nyonya sekalian, jika sedang lewat jalan raya Ngawi-Solo dan perut serta lidah Anda sedang perlu asupan fondasi yang kokoh, maka Soto Terminal Gendingan adalah opsi yang sangat patut dipertimbangkan.

​Namun, sebuah fondasi yang kokoh tentu membutuhkan material pelengkap agar konstruksi kenyangnya makin sempurna. Di sinilah peran krusial para prajurit pinggir mangkuk bermain. Seiring waktu, memang ada lauk yang pada akhirnya terpaksa didegradasi dari etalase. Namun, untuk urusan barisan depan, saya selalu mengandalkan keripik tempenya. Tipis, renyah, gurih, dan nempe banget!

​Anda juga bisa mencoba tahu bacemnya. Di antara jajaran tahu bacem yang pernah lidah saya jajaki, tahu bacem Soto Terminal Gendingan ini belum bisa tergeser posisinya dari runner-up klasemen (juara pertama tentu saja masih dipegang mutlak oleh tahu bacem buatan ibu saya). Satu lagi item yang menjadi pelengkap adalah bakwan, karena saya memang lebih suka makan soto jika diiringi minimal satu item ini.

​Ketiga amunisi tadi bukan sekadar pelengkap acak, melainkan sebuah formasi yang terukur presisi. Ada harmoni yang tercipta ketika renyahnya keripik tempe berkolaborasi dengan lembut dan manisnya tahu bacem, lalu disempurnakan oleh gurih dan padatnya bakwan. Mereka menyeimbangkan kuah soto yang segar, menciptakan ledakan tekstur di setiap suapan.

​Di luar ketiga amunisi tadi, Anda sebenarnya punya opsi untuk mendatangkan pasukan tambahan berupa sebutir telur. Namun, kehadirannya sangat opsional dan murni hak prerogatif Anda. Memilih untuk absen mengundang telur ke dalam mangkuk tidak lantas membuat Anda dijerat pasal berlapis, apalagi divonis hukuman mati. Ya, persis seperti nasib para oknum pejabat korup di suatu negara yang konon kaya raya itu, ancaman maksimal hanyalah fiksi di atas kertas. Tanpa telur pun, soto ini sudah memenangkan perkara rasa.

​Jangan lupakan ritual penyempurna, menuangkan kecap dan sambal. Percampuran keduanya secara instan mengubah kuah soto yang tadinya cerah menjadi pekat dan penuh gejolak pedas. Sensasi kelam dan pedas inilah yang membuat ritual makan soto semakin paripurna.

​Soal rasa memang subjektif, namun soal kenyang, soto ditambah formasi tiga amunisi itu benar-benar memuaskan sekaligus sangat worth it. Bagaimana tidak, seporsi kemenangan tersebut saat ini hanya memangkas ongkos 15 ribu rupiah saja. Tentu saja, itu tarif hari ini. Saya tidak berani menjamin bulan depan harganya akan tetap sama. Sudah hampir pasti harganya bakal ikut merangkak naik, sejalan dengan rupiah yang terus letih, lesu, dan lunglai terhadap dolar. Eh, tapi kan orang desa tidak pakai dolar, ya? Seperti kata salah seorang yang diamanati jabatan di republik ini yang menenangkan rakyat agar tak perlu pusing memikirkan kurs mata uang asing. Beliau mungkin lupa bahwa keripik tempe dan tahu bacem yang jadi amunisi soto kita ini bahan bakunya masih saja kedelai impor. Jadi, meski tangan orang desa tak pernah menyentuh dolar, perut mereka nyatanya tetap tunduk pada nilainya.

​But, anyway,

​Kemenangan tetap diperoleh, Kamerad! Kemenangan atas rasa, kemenangan atas kenyang, dan kemenangan atas biaya, semuanya terangkum lengkap dalam seporsi kemenangan Soto Terminal Gendingan.

​Menyadari betapa sempurnanya taktik dan ramahnya harga, eksekusi di meja makan pun berjalan tanpa keraguan. Formasi pelengkap perlahan luluh lantak, menyisakan lautan kuah soto yang kian surut seiring berjalannya waktu transit saya.

​Satu sendokan terakhir kuah soto yang tandas, disusul embusan napas lega, ibarat peluit panjang tanda pertandingan usai. Keringat tipis yang mengucur di dahi menjadi bukti sahih betapa paripurnanya perayaan kecil ini. Kini, dengan fondasi yang telah berdiri tegak dan hati yang menghangat, sisa perjalanan menuju senyum ibu tak lagi terasa sebagai rutinitas yang melelahkan, melainkan sebuah rute kemenangan yang sesungguhnya.

​Sudah, sekian saja, saya tak pesan ojek dulu.

​Sampai jumpa pada seporsi kemenangan berikutnya.

Selasa, 24 Februari 2026

Selamat malam

Rentang waktu setelah pulang kantor hingga pukul sepuluh malam adalah masa yang sangat rawan, rawan akan kecelakaan memori. Sebuah kecelakaan akibat runtuhnya ingatan-ingatan getir yang seharusnya terkunci rapat. Situasi ini kian pelik saat media sosial turut memperdaya; algoritma yang seolah kian mafhum akan isi kepala dan apa pun yang kita rasa, memaksa kita untuk tetap tenggelam dalam pusaran memori pahit itu. Dan celakanya, siklus bodoh ini berulang puluhan hingga ratusan kali.

​Istirahat selepas bekerja kerap menjadi alasan klise untuk membiarkan rutinitas itu terus berputar. Ia menjadi kambing hitam atas gelapnya kegetiran masa lalu; ia menjelma biang kerok yang nyata.

​Begitulah sekelumit omong kosong yang melintas di benak saat layar gawai menunjukkan pukul 22.33. Seorang pemuda beranjak dari kasurnya, mengumpulkan sisa-sisa kesadaran setelah pergulatan batin tersebut. Ia membuka pintu kamar kos, melangkah ke teras, lalu menyulut sebatang rokok. Tak sampai lima belas menit, rokok itu tandas. Ia kembali masuk, menutup pintu, lantas membersihkan diri, bersiap menenggelamkan diri dalam kantuk yang sebenarnya sudah ia rasakan sejak masih di kantor tadi.

​Namun, sebelum terlelap, ia membatin, "Besok, aku akan menjalani hari yang berbeda dari hari ini."

​Selamat malam.

Sabtu, 08 November 2025

Mari Berprasangka

Tampak menyedihkan, jika seorang lelaki muda menghabiskan malam minggunya hanya dengan duduk menghadap pintu kamar, sendirian. Tak ada teman bicara, tak ada tawa. Hanya dirinya, tempat sampah plastik, dan suara AC.

Terlihat ia sedang menikmati buah mangga. Setelah kuperhatikan, sepertinya itu buah yang ia bawa dari kampungnya beberapa hari lalu. Sayangnya, mangga itu sudah tidak segar lagi. Sekitar seperempat bagiannya membusuk, dan bagian ujungnya masih terasa kecut. Ia tetap memakannya perlahan, seolah tak peduli pada rasanya.

Selain mangga, di jarinya terselip rokok kretek Samsu yang terus menyala. Di telinganya, sepasang TWS terpasang, entah lagu apa yang ia dengarkan. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Tidak seperti beberapa bulan lalu, saat pertama kali ia datang ke kota ini. Waktu itu ia tampak bersemangat, penuh rencana, dan sering tersenyum kecil saat menikmati malam seperti ini.

Sekarang berbeda. Mungkin ia sedang banyak pikiran. Atau mungkin sedang sakit? Dugaan keduaku terasa lebih masuk akal, karena dari tadi aku melihatnya beberapa kali menarik napas berat dan mengusap hidungnya dengan tisu. Sesekali terdengar suara “sentrap sentrup” khas orang flu.

Yang tak kumengerti, meski sedang flu, ia masih saja merokok. Sudah sepuluh menit aku mengamatinya, dan itu sudah batang ketiga yang ia habiskan. Aku tak tahu, apakah itu karena kecanduan, atau justru karena baginya merokok adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.

Entahlah. Tapi hatiku lebih condong pada dugaan kedua. Aku tahu, akhir-akhir ini hidupnya agak terseok-seok. Ada sesuatu yang terjadi sekitar enam bulan lalu, sebuah pengalaman pertama yang cukup berat baginya. Tentang hal itu, mungkin akan kuceritakan lain waktu.

Namun siapa tahu, mungkin saja sekarang ia sebenarnya bahagia. Semua yang kukatakan sejauh ini hanya berdasarkan prasangkaku saja. Jujur, aku belum pernah benar-benar mengobrol dengannya secara terbuka. Aku belum tahu apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, atau ke mana arah hidupnya setelah ini. Aku hanya melihat dari jauh, menebak-nebak dari gestur dan kebiasaannya yang berubah.

Kadang aku ingin mencoba berbicara dengannya, tapi ada rasa takut. Takut kalau obrolan itu justru membuatku terbawa arus, ikut terseret dalam dunianya, atau bahkan termanipulasi oleh ceritanya sendiri. Mungkin itu alasan kenapa aku masih diam.

Namun, semoga suatu hari nanti aku bisa memberanikan diri untuk duduk di sampingnya dan berbicara langsung. Aku ingin tahu apakah prasangkaku selama ini salah. Lebih dari itu, aku ingin memastikan bahwa ia benar-benar baik-baik saja, bahwa ia bahagia menjalani hidupnya, dan bangga pada dirinya sendiri.

-

Surabaya, 08 November 2025

Minggu, 09 Maret 2025

Merawat Rasa Bosan


Salah satu hal yang paling menarik saat berselancar di internet adalah menemukan gagasan-gagasan baru yang dapat memperluas sudut pandang saya. Tidak jarang, saya menemukan pemikiran yang terasa begitu segar dan mencerahkan, seolah memberikan perspektif baru terhadap pengalaman yang sedang saya jalani dan kebiasaan yang ingin saya perbaiki.

Bahwa mungkin alam mendukung hal yang ingin saya perbaiki. Untuk itu, suatu hari ketika saya berselancar di internet, saya menemukan sebuah topik yang menarik di platform Quora, yaitu "Bosan juga perlu dirawat." Judul ini langsung menarik perhatian saya karena terdengar paradoksal sekaligus menggugah rasa penasaran. Sayangnya, saat itu saya sedang tergesa-gesa berpindah ke aplikasi WhatsApp karena ada urusan pekerjaan yang harus segera ditangani. Ketika akhirnya saya kembali ke Quora, laman tersebut telah ter-refresh otomatis, menghapus jejak artikel yang baru saja saya temukan. Saya berusaha mencarinya kembali, tetapi entah mengapa saya belum juga menemukannya hingga sekarang.

Namun, meskipun artikel belum kunjung saya temukan kembali, satu hal yang masih melekat dalam ingatan saya adalah kesan mendalam yang ditinggalkan oleh judulnya. "Bosan juga perlu dirawat." Awalnya, saya menafsirkan pernyataan ini secara keliru. Sekilas, saya menganggap bahwa maksud dari kalimat tersebut adalah bagaimana kita bisa menghindari rasa bosan dengan terus mencari hal-hal baru atau tetap aktif agar tidak mudah merasa jenuh. Namun, setelah mencoba memahami lebih dalam, saya justru menyadari bahwa inti pesan dari judul tersebut bertolak belakang dengan asumsi awal saya.

Dalam era digital yang serba cepat ini, kita sering kali terjebak dalam kesibukan yang tanpa sadar kita ciptakan sendiri. Hidup kita kini nyaris tidak bisa lepas dari layar gadget. Dari pagi hingga malam, ada begitu banyak distraksi yang membuat kita selalu sibuk, baik secara fisik maupun mental. Tanpa kita sadari, hampir setiap aktivitas kita kini selalu ditemani oleh ponsel atau perangkat digital lainnya.

Coba perhatikan pola keseharian kita. Saat makan, kita menonton YouTube. Saat boker di kamar mandi, kita scrolling TikTok. Sebelum tidur, kita sibuk menjelajahi Instagram atau membaca berita yang terus bergulir tanpa henti. Bahkan, saat sedang mengantre atau menunggu sesuatu, tangan kita refleks mengambil ponsel untuk sekadar mengecek media sosial atau membaca notifikasi yang mungkin tidak begitu penting. Semua ini menciptakan kebiasaan di mana kita selalu membutuhkan sesuatu untuk mengisi waktu, seakan-akan kita takut menghadapi kekosongan.

Inilah mengapa gagasan tentang "merawat kebosanan" menjadi sangat relevan bagi saya, pun juga berharap relevan terhadap anda. Artikel yang saya temukan di Quora itu sebenarnya ingin menyampaikan bahwa kita perlu melatih diri untuk terbiasa dengan rasa bosan tanpa merasa harus segera mengusirnya dengan distraksi dari gadget. Kebosanan, yang dulu mungkin terasa sebagai sesuatu yang negatif, sebenarnya memiliki peran penting dalam kehidupan kita. Ia memberi ruang bagi pikiran kita untuk beristirahat, untuk merenung, dan bahkan untuk melahirkan kreativitas yang lebih dalam.

Banyak orang besar dan pemikir kreatif di dunia yang justru menemukan ide-ide cemerlang saat mereka terbebas dari distraksi. Seperti yang dikatakan oleh Cal Newport dalam bukunya "Deep Work," seseorang dapat mencapai tingkat pemikiran yang lebih mendalam ketika mereka mampu fokus tanpa gangguan. Newport menekankan pentingnya menghindari interupsi digital agar otak bisa bekerja secara optimal dalam menghasilkan ide-ide baru. Bahkan, beberapa penulis terkenal mengakui bahwa inspirasi mereka sering kali muncul saat mereka sedang tidak melakukan apa-apa, membiarkan pikiran mereka mengalir tanpa batasan.

Namun, di zaman sekarang, di mana hampir setiap detik perhatian kita tersedot oleh notifikasi dan konten digital, kita nyaris tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar merasa "bosan". Akibatnya, otak kita terus-menerus bekerja tanpa jeda, selalu mencari stimulasi baru, yang pada akhirnya justru dapat menyebabkan kelelahan mental dan berkurangnya kemampuan untuk berpikir kreatif secara mendalam.

Jadi, bagaimana cara kita mulai "merawat" rasa bosan ini?

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan sengaja menciptakan momen tanpa distraksi. Misalnya, ketika sedang makan, cobalah untuk tidak menonton atau membaca apa pun. Fokuslah pada makanan, rasakan teksturnya, nikmati aromanya, dan perhatikan bagaimana tubuh kita meresponsnya. Ketika sedang menunggu di suatu tempat, biarkan diri kita mengamati lingkungan sekitar tanpa harus segera mengambil ponsel. Saat nongkrong dengan teman, coba tinggalkan sejenak gawai dan berikan perhatian penuh pada percakapan. Terlalu sering melihat layar saat berbincang bisa mengurangi kualitas interaksi dan membuat kita kehilangan momen berharga. Atau, luangkan waktu di penghujung hari untuk duduk diam tanpa gangguan, membiarkan pikiran mengembara tanpa harus selalu diisi dengan informasi baru.

Melakukan hal ini mungkin terasa sulit pada awalnya, terutama bagi kita yang sudah terbiasa dengan hiruk-pikuk dunia digital. Akan ada dorongan untuk segera mengisi kekosongan dengan sesuatu yang bisa memberikan stimulasi instan. Namun, dengan latihan dan kesadaran yang konsisten, kita bisa mulai menemukan kembali keindahan dalam kebosanan itu sendiri.

Merawat kebosanan bukan berarti kita harus menghindari teknologi atau menolak kemajuan zaman. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk menyeimbangkan hidup, memberikan kesempatan bagi pikiran kita untuk beristirahat, dan membiarkan kreativitas tumbuh secara alami. Dengan belajar menikmati momen tanpa distraksi, kita dapat menemukan ketenangan yang selama ini mungkin sulit kita raih di tengah derasnya arus informasi.

Jadi, lain kali ketika saya maupun Anda sekalian merasa bosan, jangan terburu-buru mencari distraksi. Izinkan diri kita merasakan kebosanan itu sepenuhnya, membiarkannya hadir tanpa perlawanan. Bisa jadi, dalam momen hening tersebut, kita justru menemukan gagasan baru, memahami diri lebih dalam, atau sekadar menikmati ketenangan yang jarang kita rasakan di tengah hiruk-pikuk dunia digital.

Senin, 24 Februari 2025

Sukatani Membayar dengan Klarifikasi: Senjata Tumpul Represi dan Kebangkitan Suara yang Tak Bisa Dibungkam


Sebagai orang awam yang tak punya pretensi sebagai kritikus musik, saya tak hendak berdebat soal selera. Tapi izinkan saya menegaskan– musik bukan sekadar komoditas hiburan, melainkan cermin zaman. Lagu "Bayar Bayar Bayar" Sukatani mungkin terdengar seperti riuh rendah yang tidak karuan bagi telinga yang tak terbiasa dengan musik punk. Aransemennya yang keras, lirik repetitif yang sengaja dibuat polos, dan vokal yang lebih mirip teriakan protes ketimbang nyanyian, memang bukan produk untuk memuaskan selera pasar. Tapi justru di situlah kekuatannya ia lahir sebagai tamparan, bukan pujian.

Polisi mungkin bisa mengkriminalisasi nada-nada fals, tapi bagaimana mereka hendak mengadili kebenaran yang dikumandangkan? Persoalannya bukan pada kualitas musikal, melainkan ketakutan penguasa pada metafora yang menyayat borok institusi. Ketika Sukatani berteriak "Aduh aduh ku tak punya uang untuk bisa bayar polisi", ia bukan sekadar menggugat suap, melainkan menelanjangi sistem korup yang telah menjadi ritual wajib dalam birokrasi. 

Ironi terbesar justru ada pada reaksi polisi. Alih-alih menjawab substansi kritik, mereka memilih jalur represif. Memaksa klarifikasi, mengintimidasi, dan menjadikan seniman sebagai pesakitan. Tindakan ini mengingatkan kita pada rezim Orde Baru yang memenjarakan Rendra karena puisi atau membredel Teater Koma karena dianggap "mengganggu ketertiban". Bedanya, di era digital ini, represi justru menjadi bumerang. Klarifikasi Sukatani yang dipaksakan itu ibarat bensin yang menyulut api perlawanan. Setiap upaya pembungkaman justru mengubah lagu ini menjadi mars generasi yang frustasi pada negara yang lebih gemar membungkam ketimbang membenahi diri.

Sejarah membuktikan, karya seni yang dianggap "berbahaya" justru abadi sebagai monumen perlawanan. "Genjer-Genjer" dikubur hidup-hidup karena dianggap bagian dari G30S, padahal ia sekadar menggambarkan penderitaan rakyat pada masa pendudukan Jepang. Di tangan penguasa yang paranoid, bahkan lagu tentang sayur bisa jadi ancaman. Hari ini, "Bayar Bayar Bayar" mengulangi sejarah itu—dibenci penguasa karena menyuarakan apa yang semua orang tahu tapi tak berani ucapkan bahwa korupsi telah menjadi darah daging sistem.

Polisi mungkin mengira klarifikasi akan mengubah Sukatani menjadi boneka yang bisu. Tapi mereka lupa, roh lagu yang mereka bawakan ada pada pembangkangan. Setiap tekanan justru mengukuhkan posisi Sukatani sebagai ikon perlawanan. Mereka sekarang bukan sekadar band, melainkan simbol perlawanan terhadap mesin represi yang mengatasnamakan "demokrasi". Publik yang cerdas tahu bahwa klarifikasi di bawah todongan legitimasi kekuasaan adalah pertunjukan absurd yang lebih memalukan daripada rekayasa kasus konferensi pers terbunuhnya siswa SMK.

Kepada polisi, izinkan saya mengutip Wiji Thukul: “Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu, ia ingin bicara mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan?” Daripada sibuk memata-matai lirik lagu, mengapa tak membersihkan institusi yang bobrok dari mafia? Daripada menuntut klarifikasi, mengapa tak transparan soal kasus? Kalian ribut melawan metafora, tapi tutup mata pada oknum instansi sendiri yang menggerogoti uang rakyat.

Sukatani telah membuktikan, senjata paling ampuh melawan represi adalah keberanian bersuara. Klarifikasi paksa itu justru monumen kekalahan penguasa—pengakuan tak langsung bahwa kritik mereka tepat sasaran. Kini, setiap kali lagu itu dinyanyikan ulang, ia bukan sekadar protes, melainkan epitaf untuk kredibilitas institusi yang memilih jadi algojo ketimbang pelayan publik.

Maka, biarkan "Bayar Bayar Bayar" menggema. Biarkan ia menjadi pengingat– sejarah selalu ditulis oleh mereka yang berani melawan, bukan oleh para penjaga status quo. Dan untuk polisi, inilah pilihanmu: tetap jadi badut represif dalam sirkus kekuasaan, atau berhenti jadi algojo dan mulai jadi entitas yang mendengarkan rakyat?


---

Selasa, 04 Februari 2025

Pemantik

Bernapas, bergerak, makan, minum, kerja. Selayaknya menjalani perjalanan hidup, sering kali memaksa kita untuk terus bergerak, terus melangkah, terus bernapas, terus makan, terus kerja. Intinya terus hidup. Namun dalam usaha keberlangsungan ini adakalanya juga sering nglamun dan klemar klemer bingung mikir.  

Dan, saya berfikir bahwa untuk keberlangsungan hidup memang seharusnya ada pemantiknya. Pemantik dalam artian sebab hal yang bisa membuat kita menjadi bersemangat lagi. Pemantik yang bisa membuat kita lupa akan adanya beban yang harus tetap dipikul sampai beban tersebut menguap dan hilang. Atau, beban yang saat ini terpanggul semakin membuat otot tubuh kita menjadi makin kuat dan makin enteng. 

Pemantik seyogyanya penting. Tidak hanya bersumber pada diluar diri kita namun juga yang terpenting adalah dari dalam diri kita. Karena sering kali pemantik yang berasal dari luar kehendak diri kita banyak mblesetnya. Maka dari itu tumpuan pemantik semangat hidup yang dari internal diberi kita yang penting. Kita harus mencari atau bahkan memproduksi sendiri pemantik itu. 

Pemahaman akan diri kita sendiri menjadi penting. Namun susah. Betul kan? 

Jalan yang paling mudah untuk menemukan pemantik untuk menjaga keberlangsungan dan kewarasan diri adalah dengan kita tahu “saya sebenernya mau apa sih” atau apa yang mau dicapai, apa yang mau diraih, apa yang mau dicita citakan. 

Beberapa poin tersebut mungkin akan membantu. Tidak usah muluk muluk dengan keinginan, capaian, cita-cita yang besar dan ndakik-ndakik. Cukup yang simpel saja. Misalnya keinginan untuk jalan-jalan dengan motor kesayangan, makan enak, mandi bersih, tidur dengan sprei kasur yang setelah di laudry. 

Hal simpel tersebut cukup ampuh kepada saya. Dan ya, cukup sedikit membantu apa yang sebenarnya yang diri saya inginkan dan apa yang cukup menjadi pemantik “hidup” ketika saya sendang merasa bingung dan banyak nglamunnya. 

Mungkin secuil tips dan remeh tersebut bisa menjadi jalan dan “pemantik” antum pula untuk tambah sedikit bergairah dalam menjalani hari. 

Rabu, 15 Januari 2025

Uang saku yang kurang

 Ada saja gebrakan yang di lakukan oleh simbul. Ya, anak pemilik kos yang saya ceritakan sebelumnya. Pagi ini ia membuat drama tak mau berangkat sekolah karena uang sakunya kurang. Saya tahu karena ia pagi ini lagi-lagi mengasah keahliannya dalam berteatrikal di depan rumah.

Dasi merah yang sudah rapi menjadi melorot dan hampir lepas, pakaian yang sudah rapi licin tercerai berai keluar dari sabuknya, tas yang digendongnya luluh lantah beserta isi di lantai depan pintu, topi yang sedari tadi hinggap bertengger rapi di kepalanya, sekarang sudah menemani tas yang terkapar dilantai.

Sungguh menjadi satu hiburan dan kegelisahan tersendiri bagi saya yang menonton pertunjukkan yang dilakukan oleh satu bocah satu SD yang ginuk-ginuk ini. Menjadi hiburan dikarenakan memang lucu tingkah ngamuknya. Namun, menjadi satu kegelisahan mungkin nantinya saya akan menjadi orang tua dan harus merasa lumrah dan harus sabar akan tingkah laku anak saya nantinya.

Walau memang agak sabar menunggu emosinya reda. Dan syukurnya anak tetangga lain juga mau berangkat lewat rumahnya dan melihat Simbul menangis, lalu tiba-tiba menghampiri. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi ajaibnya, tangis Simbul perlahan mereda. Mungkin ia malu dilihat temannya. Setelah beberapa detik menimbang, akhirnya simbul menyerah pada nasib, menyeka air mata dengan ujung dasi. akhirnya ia legowo untuk berangkat sekolah.

Usahanya sia sia.

Mungkin jika drama yang ia buat berhasil, saya coba membayangkan betapa bahagianya ia di sekolah. mungkin, sudah memikirkan bahwa ia yang paling kaya diantara teman temannya karena uang sakunya pagi ini bertambah. Semua pedagang yang berderet di depan mungkin akan ia singgahi dan tinggal tunjuk saja, teman temannya yang ikut membersamainya akan ia traktir. Makan siang gratis dari pemerintah mungkin akan ia acuhkan pula.

Tapi imajinasi memang tinggal imajinasi. Realita yang terjadi tidak seperti yang diharapkan oleh Simbul. Ia tetap melanggang lemas berangkat menuju destinasi pembelajaran seperti biasanya, dengan uang saku yang "gagal optimal".

Simbul memang bocah kelas satu SD, tapi bakatnya di bidang seni peran teatrikal benar-benar layak iapresiasi. Kalau suatu hari ia muncul di layar kaca, ataupun ada video viral di akun youtubenya, saya bisa dengan bangga berkata, "Saya saksi pertama dari kebangkitan
kariernya."

Rabu, 08 Januari 2025

Euforia Timnas


Tahun ini memang tahunnya timnas buat jadi bahan perbincangan. Di mana-mana, dari beranda kos, warkop, depan Indomaret, sampai jadi bahan slentingan grup kerjaan. Atmosfer ini jelas saya rasakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Seingat memori saya, dari dulu-dulu jarang sekali ada yang niat menggelar acara nobar (nonton bareng) untuk pertandingan timnas. Paling pol ya nobar final Indonesia pas jamannya Evan Dimas. Tapi sekarang? Begitu kualifikasi Piala Dunia dimulai, tiap warkop, pos ronda, sampai pabrik mendadak jadi stadion mini. 

Ya, anda tidak salah baca, Di pabrik tempat saya kerja, banyak karyawan usul untuk diadakan nobar timnas di pabrik. Banyak karyawan yang biasanya minta hiburannya jam lembur, ini malah minta manajemen buat ngadain nobar timnas main kualifikasi piala dunia. Gak ketebak dolor.  

Tapi, di tengah euforia ini, ada berita yang bikin melongo: Shin Taeyong dipecat. DI-PECAT!. Lah, piye ceritane? Wong ini pelatih yang katanya sudah bikin timnas jadi lumayan manusiawi di mata dunia. Prestasi ada, progres juga nyata. Kok malah di "bebas tugaskan"? Saya, yang biasanya cuma buka berita bola pas Indonesia main, jadi ikutan kepo.  

Ini kabar yang menggemparkan memang. Di pabrik, topik ini jadi bahan utama diskusi di smoking area. Kalau biasanya buruh seperti saya ngomongin target kerja, jam lembur yang kurang, beban kerja yang tidak adil, event sound horex, sekarang malah ngomongin perkembangan timnas selepas STY dan berlagak jadi kayak pengamat bola ulung. 

Mulai analisa ngalor-ngidul, dari prestasi serta taktik STY, alasan kenapa dipecat, sampai ramalan masa depan Patrick Kluivert, pelatih pengganti yang katanya di interview langsung sama usernya yakni Pak Erick Thohir. Bung towel mungkin akan shock dengan analisa-analisa yang mencuat di forum tersebut jika ikut nimbrung.

Sebagai rakyat biasa yang nggak ngerti bola lebih dari sekadar "Timnas Indonesia Menang" saya cuma punya satu harapan: semoga dengan pelatih baru yang katanya "langsung interview User" ini, timnas bisa lolos ke ajang paling prestisius di planet bumi. Jangan cuma puas naik peringkat. Minimal, ya minimal banget lho ini, timnas kita bisa ngalahin Argentina lah. Wong arab saja kemarin bisa di "dua kosong"kan.

Topik Timnas ini sudah tak khayalnya seperti topik politik pilpres kemarin penuh kejutan dan konflik yang bikin kita betah jadi komentator setia. Yang penting, apapun yang terjadi, wong cilik seperti saya tetap setia mendukung sambil sesekali ngrasani. Maju terus, Garuda! Jangan lupa oleh-oleh Tacos Los Palomos kalau dah balik dari LA.  

Kamis, 02 Januari 2025

Upacara Hari Kamis

 Pagi H+1 setelah tahun baru, di Pasuruan kali ini terasa sendu. Udara nggak sepanas biasanya. maklum, subuh tadi, gerimis turun pelan-pelan, semilir angin pun ikut menemani. Suasana begini memang cocok menikmati seduhan kopi pahit sembari melanjutkan buku yang sudah hampir 3 bulan ndak tamat-tamat. Tapi, niat baca itu seketika buyar gara-gara peristiwa kecil yang saya saksikan langsung dari depan kamar kos.

Anak Bapak kos, sebut saja namanya Simbul, yang harusnya sudah siap upacara bendera di Sekolahnya, tiba-tiba muncul di depan rumah tepat jam 06.57 pagi. Wajahnya kusut kanebo, langkahnya gontai, kayak abis ketahuan nyontek di kelas. Saya cuma bisa bengong sambil menerka-nerka, “Ini bocah kenapa lagi?” Belum sempat saya tebak, Simbul sudah bikin aksi teatrikal. Dengan penuh emosi, dia melempar topi merah putihnya ke depan pintu. Topi itu tergeletak begitu saja, dramatis.

Simbul diam, bungkam total. Dia cuma berdiri dengan tatapan penuh arti, membiarkan semesta menebak-nebak isi hatinya. Sementara itu, ayahnya yang lagi sibuk menyapu halaman mendadak berhenti. Dengan raut muka setengah penasaran, setengah kesal, beliau akhirnya bertanya:
"Opo o kok wis mulih isuk ngeneki? Isih prei ta? Bukane mari ngene upacara ta pean? (Kenapa pulang pagi-pagi begini? Masih libur ya? Bukannya sebentar lagi kamu upacara?)"

Simbul yang awalnya diam, tiba-tiba menjawab dengan nada penuh drama.
"Isin aku, Yah. Iki dino opooooo? (Malu aku, Yah. Ini hari apaaa?)"

Saya, yang lagi nyeruput kopi, langsung tersedak. Ini Kamis, Saudara-Saudara! Kamis, bukan Senin! Saya sampai meringis, nahan tawa mencoba tidak kelihatan terlalu bahagia di atas penderitaan orang lain.

Jadi begini, orang tua dan juga Simbul ternyata lupa kalau hari ini bukan Senin, alias bukan jadwal upacara bendera. Dengan penuh semangat 45, dia pakai full dress code seragam lengkap plus topi merah putih, hanya untuk menyadari bahwa semua itu sia-sia karena… ya, ini Kamis. Bukan Senin yang penuh penghormatan.

Setelah mengeluarkan teriakan dramatis tadi, Simbul nggak berhenti sampai di situ. Dalam waktu singkat, dia melempar tasnya ke lantai, lalu mulai membuka kancing seragam dan celananya di depan rumah. Entah sadar atau nggak, saya dapat tontonan dan hiburan gratis pagi itu. Tapi Simbul nggak peduli. Selain karena sudah malu berat dari sekolah, dia juga harus buru-buru balik ke sekolah sebelum terlambat.

Tanpa aba-aba lagi, ayahnya langsung menyeret dia masuk ke dalam rumah. Entah apa yang terjadi selanjutnya, tapi saya yakin ada perdebatan antara rasa malu dan kebutuhan untuk tetap sekolah.

Pagi ini, saya menyadari sesuatu: hidup memang penuh drama yang tidak terduga. Kadang, hidup memang sesimpel salah hari. Hal-hal kayak gini bikin kita sadar, tahun baru nggak harus diisi resolusi muluk-muluk. Cukup pastikan kalendermu nggak salah baca saja.

Rabu, 01 Januari 2025

Tahun Baru, Koyo, dan Refleksi Fase Dewasa

Tahun baru itu sekarang rasanya udah kayak Senin pagi. Gitu-gitu aja, tapi tetap datang. Kalau dulu, pas masih SD atau SMP, malam tahun baru tuh hebohnya minta ampun. Kembang api bertebaran, suara petasan bikin ibu-ibu kampung sebelah kirim surat protes, dan kita? Begadang sambil makan kacang rebus. Tidur jam 2 pagi pun dianggap biasa, yang penting seru-seruan.

Tapi sekarang? menginjak usia dewasa ini, antusiasme malam tahun baru udah nyusut kayak baju kesiram air panas. Mungkin karena sekarang beban hidup lebih terasa daripada suara petasan. Pikiran malam tahun baru bukan lagi soal “mau bikin resolusi apa,” tapi lebih ke “Resolusi tahun lalu aja belum ada yang kelar, apalagi bikin yang baru.”

Bayangin, malam pergantian tahun bukannya mikirin kembang api atau jagung bakar, malah sibuk merenung. Pikiran bercabang ke mana-mana: masalah kerjaan yang belum kelar, cicilan, tabungan nikah yang masih level "niat," sampai keinget pertanyaan horor dari bude pak de di acara keluarga, “Kapan undangannya nyusul?” Tahun 2024 ini, sumpah, terasa kayak lewat gitu aja. Baru nyadar bulan Januari, tahu-tahu udah Desember.

Dan malam tahun baru? Jangan bayangkan ada perayaan gegap gempita. Nyatanya, malam itu cuma dihabiskan dengan misi ke warung sembako buat beli susu, koyo, dan minyak oles. Alasannya sederhana: libur sehari tidur kelamaan bikin punggung kayak papan triplek. Akhirnya, bukannya menikmati malam, malah jadi pengingat betapa dewasanya kita sekarang—dewasanya punggung, maksudnya.

Tapi ya sudah, begitulah hidup. Mungkin kembang api udah nggak semenarik dulu, tapi susu hangat dan koyo ternyata punya daya magis tersendiri. Di tengah segala renungan dan punggung pegal, ada kenyamanan kecil yang membuat kita bertahan.

Jadi, selamat tahun baru buat sesama pejuang dewasa muda! Meski perayaan kita sekarang lebih sederhana, toh, maknanya nggak kalah besar. Karena siapa sangka, momen-momen kecil kayak beli koyo di malam tahun baru bisa jadi cerita lucu di tahun-tahun mendatang.

Minggu, 12 Desember 2021

Dari Konser Pertama Hingga Tiket Dirobek Karena Titipan Miras

 


Hari ini saya iseng buka facebook dan facebook mengigatkan momen tepat 7 tahun silam saya mengawali sebagai salah satu orang yang gemar ke konser musik. Berawal dari event konser yang saya abadikan inilah saya cukup banyak dan mulai suka menghadiri perhelatan musik dari berbagai genre mulai dari dangdut, reggae, punk, indie, hardcore hingga hadroh.

Momen 7 tahun lalu tersebut adalah konser musik reggae yang diadakan di alun- alun kota yang menjadi konser musik pertama saya.  

Konser musik reggae tersebut mengawali keberanian saya untuk mengunjungi event konser musik dengan datang sendiri, saya tidak mengajak teman ataupun diajak teman, murni keberanian diri untuk ingin tahu dan penasaran akan atmosfer saat nonton konser bagaimana, dan ternyata konser pertama saya tersebut memberikan dampak drastis pada pengalaman menikmati musik secara langsung yang tidak saya lupakan.

Dari konser ke konser, (walaupun hanya beberapa konser atau event musik saja yang saya kunjungi, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari) ada hal yang menyenangkan yang saya dapat, yakni merasakan atmosfer dalam menikmati musik secara bersama-sama dengan banyak orang sekaligus.

Meskipun antara satu individu dengan yang lain berbeda cara menikmatinya, seperti ada yang berjoget, ada yang hanya ingin duduk dan mendengarkan musik sambil mulut komat kamit mengikuti lirik, ada juga yang hanya berdiri mematung dan menimati situasi sekitar. Namun, feel saat menimati konser musik sangat berbeda dengan saat kita mendengarkan lagu sendirian melalui hp atau perangkat lain.

Faktor lain yang menyebabkan saya suka mengunjungi konser musik di 7 atau 5 tahun lalu adalah saya sangat suka bertemu orang baru. Hal ini bukan tanpa alasan melainkan ada tujuan oportunis, yakni untuk memperoleh informasi event musik yang akan diadakan untuk waktu yang akan datang.

Dari kenalan baru tersebut sering kali saya ditawari untuk nonton konser dan dapat gratisan tiket nonton. haha

Namun, bertemu dan berkenalan dengan orang baru di event konser musik mulai saya anggap skeptis saat setelah saya mengalami satu momen yang merugikan saya.

Satu momen tersebut adalah saya jadi salah satu orang salah tangkap anggota pengamanan konser karena gerombolan yang baru saya kenal dituduh membawa miras yang sebelumnya orang tidak dikenal titipkan kepada gerombolan kami.

Alhasil gerombolan yang baru saya kenal tersebut di tahan, sebagian tiket kami dirobek termasuk tiket saya dan beberapa diantaranya di backlist dari event tersebut. Karena memang sudah menjadi aturan dari penyelenggara bahwa setiap pengunjung dilarang membawa miras.  

Saat itu saya tidak tahu, atau mungkin terlalu polos bahwa botol aq*a yang dititipkan kepada salah orang dari gerombolan yang baru saya kenal tersebut berisi miras, saya hanya menduga bahwa botol tersebut berisi selayaknya air mineral biasa. Karena warnanya sama-sama bening.  haha

Namun setelah ingin masuk dan memeriksa tiket semua barang bawaan kami beserta isinya dibuka satu per satu, dan alhasil ketemulah benda itu.

Mulai dari peristiwa tersebut saya tidak lagi mau berkenalan dengan orang baru atau asing bagi saya di event musik dan akan pasti menolak jika ada orang yang menitipkan barangnya kepada saya.

Untung saja pada saat itu barang tersebut tidak ditipkan kepada saya, jadi saya tidak masuk daftar blacklist walaupun tetap saja tidak bisa masuk event karena tiket saya terlanjur dirobek dan tidak ada ganti rugi.

Sebagai upaya kami tetap menjelaskan bahwa barang tersebut bukan milik kami namun tetap saja pihak pengamanan tidak mau tahu soal itu. Dan alhasil saya dan beberapa orang di gerombolan yang baru saya kenal tersebut pulang dengan rasaya kecewa.

Peristiwa atau momen tersebut juga bisa menjadi pelajaran bagi kamu untuk lebih berhati-hati jika ingin pergi ke konser musik sendirian. dan jangan terlalu percaya dengan orang yang baru kamu kenal di event konser, apalagi orang yang baru kamu kenal tersebut tiba tiba menitipkan barang ke kamu.

Minggu, 23 Agustus 2020

Telat menyambut "ANOTHER DAY"

Image

(sc: https://twitter.com/thesigit)

    Saya telat mengetahui bahwa salah satu band favorit saya risil single pembuka dari album teranyar mereka, meski belum tau albumnya rilis kapan. The SIGIT "another day" rilis resmi pada 31 Juli kemarin setelah 7 tahun dengan album terakhir Detourn. Dan saya baru sempat mendengarkan hari ini tepat 10 hari pasca perilisan.Sebagaimana prinsip ilmiah dari prinsip cinta, kalau sudah suka sejak awal ya pastilah untuk seterusnya mendapati perasaan yang sama. Sama halnya saya mendengarkan lagu ini. Saya tidak berkomentar banyak. Walau memang lagu ini tidak patut untuk dikometari berlebih. 

    Saya sempat berekspetasi bahwa untuk album atau lagu berikutnya the sigit akan mengusung konsep sebelas duabelas dengan band Mooner, side project dari Mas Rekti. Ekspetasi ini muncul saat melihat perbincangan mas rekti di kanal Ngobam Ghofar Hilman, mengatakan bahwa untuk selanjutnya album The SIGIT ingin membawakan lagu berbahasa indonesia. Namun, ekspetasi saya tersebut salah bahkan dapat dibilang melenceng.

    "Another Day" mengingatkan saya atas memori 2015 silam, saat pertama kali mendengarkan lagu "Conundrum" di bangku bus tua jurusan Ngawi-Ngrambe.  Mata terbelalak dan kemudian memutar lagu tersebut hingga berulang kali. hal tersebut juga saya lakukan di lagu teranyar mereka ini. Saya kadung suka dengan suasana lagu yang dinamis, seger dan misterius pada lagu ini. berikut lirik lagu tersebut:

These things are beautiful
Don't think they're reachable
Another day, another sunset
Confession won't make it right
All the things we do at night
Another day, another mindset

The death will smile at every men
All one can do is to smile back
Someone indigenous for someone oblivious
Is just some other day
Another sidetrack

Another day, another sunset
Another day, another sunset
Another day, another mindset
Another day, another mindset

  


    Mengutip kalimat dari Mas Nuran Wibisono bahwa "Another Day" adalah satu dari sedikit sekali kabar baik di 2020, dan tentunya saya dan banyak orang lain berharap untuk kabar baik lain dari The SIGIT akan segera menyusul. ("The SIGIT Merilis Single "Another Day"", https://tirto.id/fVB2)

Selasa, 31 Maret 2020

Pengalaman dan sedikit nasihat terkait ebook gratisan



     Nuwun sewu teman teman. Di beberapa paragraf tulisan saya ini saya hanya menyampaikan apa yang sedikit mengusik pikiran saya. Saya sampaikan dengan beberapa pertimbangan yang sudah saya pikirkan, saya menyampaikan dengan niat baik untuk tulisan ini. Jadi untuk teman teman pembaca pesan saya untuk mengambil yang baik dan koreksi jika ada kurang dalam tulisan ini. Enjoy 

     Jadi, Beberapa hari ini saya dibuat kaget dengan beberapa postingan di story whatsappp saya banyak teman teman saya yang membagikan buku dengan format pdf (e-book) secara gratis. Beberapa diantaranya saya tanya dari mana e-book tersebut diperoleh dan menanyakan apakah sudah ada izin secara riel dari penulis maupun penerbit? Ternyata banyak yang menjawab bahwa mereka memperoleh e-book tersebut dari sesama teman yang membagikan dengan cara yang sama pula di story whatsapp-nya, dan tentu tanpa ada persetujuan penulis atau penerbit. Saya tersenyum kecut beberapa kali saat membaca jawaban pesan tersebut.

Saya orang yang suka buku tapi ngga sering sering banget baca buku, atau bahkan membeli buku, hanya kalau ada buku yang saya suka banget dan pengen beli ditambah ada diskon lumayan saya baru beli buku. Saya juga ndak munafik dulu juga melakukan hal sama menguduh e-book tanpa persetujuan penulis, namun untungnya tak sampai membagikan kelain pihak atau bahkan mengkomersialkannya, dan saya berhenti melakukan hal tersebut. Saya ingat dulu pertama kalinya membaca e-book unduhan ilegal adalah novel “Dilan” karangan Pidi baiq. Maaf untuk Pidi Baiq saya menikmati tulisan beliau tanpa penghargaan yang setara. Selain novel Dilan tersebut saya juga sempat menuntaskan e-book dari Puthut EA berjudul Menanam Padi di langit, namun saya baru tau setelah tuntas mambacanya bahwa e-book tersebut memang digratiskan. Nah disini poinnya Man teman, cari e-book gratis dengan izin baca dari penulisnya, ada banyak sekali di internet, kalaupun susah carilah pakai aplikasi Ipunas atau pakai Googlebook ada banyak pilihan buku gratis disana, dan ingat man teman jangan lihat covernya tapi coba baca dulu bukunya. Saya tau banyak diantara kalian yang mengernyitkan dahi ketika melihat cover dikedua platform yang saya sebutkan diatas tapi yang perlu kita tahu bahwa mereka penulis Man teman bukan designer, jadi nikmati tulisannya bukan covernya. Untuk buku berjudul “menanam padi di langit” dan satu buku gratis lain yang saya rekomendasikan karangan Raisa Kamila Dkk berjudul “Tank Merah Muda” nanti akan saya cantumkan linknya dibawah agar teman teman bisa mengunduh dan membaca dan tentu saja gratis dengan persetujuan penulis.
      Oh iya, perlu juga wawasan agar kita tahu bahwa buku yang telah dicetak dan dikomersialkan dilidungi undang-undang man teman, jadi tidak sembarangan harusnya kita mengunduh dan membagikan kepada orang lain khususnya e-book dalam bahasan kita kali ini. Jadi didalam Pasal 12 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (kita sebut UUHC) e-book merupakkan ciptaan dalam suatu karya tulis yang dilindungi. Dasar adanya suatu perlindungan tersebut adalah adanya suatu hak cipta man teman, nah hak cipta sendiri juga dijelaskan dalam UU yang sama bahwa “Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.” Dari bunyi pasal tersebut maka dapat kita ketahui hanya pencipta atau pemegang hak cipta yang berhak mengumumkan atau memperbanyak buku/e-book tersebut, singkatnya bahwa perlu adanya izin untuk membagikan, menggunakan atau memperbanyak e-book tersebut dari pencipta atau pemegang hak cipta tersebut.
     Tindakan mengunduh e-book melalui internet dengan tujuan untuk dinikmati atau digunakan untuk kepentingan pribadi dapat dikategorikan sebagai pelanggaran hak cipta apabila “merugikan kepentingan ekonomi yang wajar” dari pencipta atau pemegang hak cipta. Hal ini sesuai dengan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UUHC yang menyatakan:[1]
“Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya. Dalam pengertian “mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan menerjemahkan mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan Ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun.”
Dari Penjelasan Pasal 2 tersebut kategori mengunduh atau mendownload termasuk dalam memperbanyak ciptaan. Kegiatan tersebut jelas termasuk pelanggaran hak cipta yang dapat dikenai pidana  penjara  masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah),  atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).sesuai dengan bunyi pada pasal 72 ayat (2) UUHC.
      Maka dari itu teman-teman mari kita budayakan untuk menghargai karya orang lain dengan membeli karya tersebut bukan hanya menikmatinya saja dan berhenti untuk mengunduh dan membagikan tanpa adanya persetujuan dari pemegang hak cipta yang bersangkutan. Banyak pengorbanan yang dilalui oleh pemengang hak cipta (penulis dan penerbit) untuk mewujudkan satu buku untuk dibaca dan yang pasti kita tidak tau akan hal itu, jadi mari kita hargai dengan membeli.

Maaf jika yang saya tulis ini banyak kurangnya, teman-teman bisa mengetahui lebih lanjut terkait Undang-undang Hak cipta dapat diunduh DISINI atau mencari literatur kajian lain DISINI


sekian ya teman-teman, koreksi saya jika salah. salam sayang~~



[1] “Ulasan lengkap : Apakah Mengunduh E-book Termasuk Perbuatan Illegal?”, online: hukumonline.com/klinik<https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4f0675431cc2d/apakah-mengunduh-e-book-termasuk-perbuatan-illegal-/>.