Kamis, 14 Mei 2026

Memoar Vespa


Waktu SMP, mayoritas teman-teman saya mendambakan motor Satria FU, Vixion, atau Ninja 2-tak. Namun, agaknya saya memilih "jalan ninja" yang berbeda: Vespa klasik.

Pertama kali saya memilih jalan itu adalah ketika melihatnya dari dekat saat nongkrong selepas pulang sekolah. Salah satu kawan dekat membawa Vespa Sprint warna biru ke tempat tongkrongan. Saya cuma bisa memandangi karena tidak diizinkan mencoba. maklum, teman saya tahu kalau saya belum mahir motor kopling tangan. Saya lupa tahun produksinya, tapi tampilannya masih orisinal dan mesinnya halus meskipun ada beberapa bagian yang sudah keropos. Di mata saya, motor itu sangat reggae sekali, keren, dan unik. Suara mesin 2-taknya pun menjadi pelengkap yang sempurna. Di situlah saya mulai terpikat.

Masuk masa SMK, obsesi ini makin tidak tahu diri. Selama beberapa bulan, hobi saya adalah menjelajah Facebook Marketplace dan OLX hanya untuk melihat-lihat Vespa dijual.

Puncak obsesi, saya pernah melakukan hal yang sangat nekat di sebuah postingan Facebook yang menawarkan Vespa Sprint Bagol seharga 7 juta. Saat itu, total tabungan saya cuma 750 ribu. Dengan kepercayaan diri yang entah dari mana, saya mengirim pesan ke penjualnya: "Mas, Vespanya boleh tak cicil 750 dulu?"

Tidak perlu BMKG untuk memprediksi jawabannya. Jelas saja si penjual menolak mentah-mentah. Masih untung dia tidak membalas dengan kalimat nyelekit, "750 ewu tukokno musang ae Mas, cek enek kesibukan selain komen ngawur!" (750 ribu belikan musang saja Mas, biar ada kesibukan selain komentar asal!).

Zaman kuliah, godaan datang lagi lewat Vespa Excel milik seorang kawan. Saya sering diam-diam memandanginya di parkiran kampus, bahkan sempat mencoba motor itu beberapa meter. Rasanya? Nagih dan satisfying. Tapi lagi-lagi, niat baik saya dijegal finansial. Tabungan saya cuma 2 juta, sementara harga Vespa yang dulu 7 juta sudah melonjak jadi 15-20 juta. Niat beli pun kembali saya telan bulat-bulat, saya putar balik dan parkir di posisi awal.

Di awal masa kerja, keinginan itu sempat meredup, sampai suatu hari saya berpapasan dengan rombongan touring Vespa. Melihat mereka menepi di Indomaret dekat kos, saya pun putar balik. Pakai modus beli kopi kaleng, saya ikut nongkrong di samping rombongan sambil mengagumi deretan Vespa mereka.

Iseng-iseng, saya basa-basi ke salah seorang bapak-bapak dalam rombongan itu. Dari obrolan itu, si Bapak memberi petuah yang menampar: "Vespa itu cuma buat orang yang berani saja. Berani keluar duit buat beli motornya, berani beli spare part-nya, dan berani beli waktunya."

Kata-kata itu membuat niat saya menciut. Lagi-lagi kena jegal masalah "berani keluar duit". 

Pada akhirnya, saya malah memilih motor lain. keputusan yang sekarang sedikit saya sesali karena ternyata biaya perawatannya sama saja menguras kantong.

Tapi sepertinya semesta memang hobi menguji keberanian saya. Baru-baru ini, teman kos saya membawa Vespa Excel milik kawannya. Sudah sebulan motor itu terparkir manis di parkiran kos dalam kondisi cakep: modif CDI, double starter, aki kering, lampu LED, cat mengkilap dan tidak telat pajak. 

Setiap balik kerja dan mau parkir motor, saya selalu curi-curi pandang. Pas saya iseng tanya harganya, realitas kembali menampar. Angkanya tetap menjadi musuh utama yang memaksa saya berhenti di level memandangi dan mengagumi saja.

Saya tarik niatan untuk memiliki vespa "lagi".

Saya tidak tahu siklus ini akan terulang sampai kapan. Bahkan saat tulisan ini dibuat pun, saya dalam posisi duduk di depan Vespa teman kos saya yang terparkir manis, memandanginya sedari pagi tadi.

Momen ini membuat saya teringat kata Sudjiwo Tedjo: "mungkin benar kata orang, ada kebahagiaan dalam sekadar memandangi. Seperti menikmati senja, tanpa harus memaksa membawa pulang mataharinya."


Surabaya, 14 Mei 2026