Tidak ada porsi kekalahan hari ini. Yang tersajikan kali ini adalah seporsi kemenangan. Bentuk kemenangan yang sering kali dan sampai saat ini menjadi agenda rutin ketika pulang ke Ngawi dengan bus.
Soto Terminal Gendingan menjadi checkpoint yang penting dalam perjalanan pulang kampung saya. Tidak hanya menandai bahwa sebentar lagi akan disambut udara dingin, sawah hijau, Gunung Lawu yang ngawe-awe, dan suasana yang hening. Namun, ini menjadi mukadimah bahwa kemenangan dalam perjalanan sebentar lagi ada di genggaman. Soto Terminal Gendingan tak ubahnya seperti welcome drink versi saya, sebuah gladi bersih bagi perut sebelum dihajar kelezatan masakan ibu selama beberapa hari ke depan.
Sebagai patokan, jika Anda datang dari arah timur (jalur Surabaya-Solo), setelah turun dari bus Anda bisa langsung berjalan kaki masuk melalui akses pintu keluar Terminal Gendingan. Di sebelah kiri atau di sisi utara, Anda akan menemukan deretan ruko. Warung soto ini menempati ruko kedua dari arah barat. Ciri-cirinya sangat mudah dikenali, yakni bangunan berwarna hijau dengan spanduk yang membentang di bagian depannya.
Entah apa yang membuat soto ini selalu menjadi pilihan ketika saya transit di pemberhentian Terminal Gendingan. Saya rasa soto ini memiliki sisi magis tersendiri bagi saya. Entah kenapa, setelah turun dari bus, lidah dan perut sepertinya selalu mufakat untuk mengajukan proposal ke otak dengan menyerukan, "Wayahe, wayahe, lur!"
Saya tidak berniat untuk hiperbola atau meromantisasi kegiatan remeh-temeh ini. Hanya saja, saya ingin menyampaikan kepada kawan, kamerad, bung, dan nyonya sekalian, jika sedang lewat jalan raya Ngawi-Solo dan perut serta lidah Anda sedang perlu asupan fondasi yang kokoh, maka Soto Terminal Gendingan adalah opsi yang sangat patut dipertimbangkan.
Namun, sebuah fondasi yang kokoh tentu membutuhkan material pelengkap agar konstruksi kenyangnya makin sempurna. Di sinilah peran krusial para prajurit pinggir mangkuk bermain. Seiring waktu, memang ada lauk yang pada akhirnya terpaksa didegradasi dari etalase. Namun, untuk urusan barisan depan, saya selalu mengandalkan keripik tempenya. Tipis, renyah, gurih, dan nempe banget!
Anda juga bisa mencoba tahu bacemnya. Di antara jajaran tahu bacem yang pernah lidah saya jajaki, tahu bacem Soto Terminal Gendingan ini belum bisa tergeser posisinya dari runner-up klasemen (juara pertama tentu saja masih dipegang mutlak oleh tahu bacem buatan ibu saya). Satu lagi item yang menjadi pelengkap adalah bakwan, karena saya memang lebih suka makan soto jika diiringi minimal satu item ini.
Ketiga amunisi tadi bukan sekadar pelengkap acak, melainkan sebuah formasi yang terukur presisi. Ada harmoni yang tercipta ketika renyahnya keripik tempe berkolaborasi dengan lembut dan manisnya tahu bacem, lalu disempurnakan oleh gurih dan padatnya bakwan. Mereka menyeimbangkan kuah soto yang segar, menciptakan ledakan tekstur di setiap suapan.
Di luar ketiga amunisi tadi, Anda sebenarnya punya opsi untuk mendatangkan pasukan tambahan berupa sebutir telur. Namun, kehadirannya sangat opsional dan murni hak prerogatif Anda. Memilih untuk absen mengundang telur ke dalam mangkuk tidak lantas membuat Anda dijerat pasal berlapis, apalagi divonis hukuman mati. Ya, persis seperti nasib para oknum pejabat korup di suatu negara yang konon kaya raya itu, ancaman maksimal hanyalah fiksi di atas kertas. Tanpa telur pun, soto ini sudah memenangkan perkara rasa.
Jangan lupakan ritual penyempurna, menuangkan kecap dan sambal. Percampuran keduanya secara instan mengubah kuah soto yang tadinya cerah menjadi pekat dan penuh gejolak pedas. Sensasi kelam dan pedas inilah yang membuat ritual makan soto semakin paripurna.
Soal rasa memang subjektif, namun soal kenyang, soto ditambah formasi tiga amunisi itu benar-benar memuaskan sekaligus sangat worth it. Bagaimana tidak, seporsi kemenangan tersebut saat ini hanya memangkas ongkos 15 ribu rupiah saja. Tentu saja, itu tarif hari ini. Saya tidak berani menjamin bulan depan harganya akan tetap sama. Sudah hampir pasti harganya bakal ikut merangkak naik, sejalan dengan rupiah yang terus letih, lesu, dan lunglai terhadap dolar. Eh, tapi kan orang desa tidak pakai dolar, ya? Seperti kata salah seorang yang diamanati jabatan di republik ini yang menenangkan rakyat agar tak perlu pusing memikirkan kurs mata uang asing. Beliau mungkin lupa bahwa keripik tempe dan tahu bacem yang jadi amunisi soto kita ini bahan bakunya masih saja kedelai impor. Jadi, meski tangan orang desa tak pernah menyentuh dolar, perut mereka nyatanya tetap tunduk pada nilainya.
But, anyway,
Kemenangan tetap diperoleh, Kamerad! Kemenangan atas rasa, kemenangan atas kenyang, dan kemenangan atas biaya, semuanya terangkum lengkap dalam seporsi kemenangan Soto Terminal Gendingan.
Menyadari betapa sempurnanya taktik dan ramahnya harga, eksekusi di meja makan pun berjalan tanpa keraguan. Formasi pelengkap perlahan luluh lantak, menyisakan lautan kuah soto yang kian surut seiring berjalannya waktu transit saya.
Satu sendokan terakhir kuah soto yang tandas, disusul embusan napas lega, ibarat peluit panjang tanda pertandingan usai. Keringat tipis yang mengucur di dahi menjadi bukti sahih betapa paripurnanya perayaan kecil ini. Kini, dengan fondasi yang telah berdiri tegak dan hati yang menghangat, sisa perjalanan menuju senyum ibu tak lagi terasa sebagai rutinitas yang melelahkan, melainkan sebuah rute kemenangan yang sesungguhnya.
Sudah, sekian saja, saya tak pesan ojek dulu.
Sampai jumpa pada seporsi kemenangan berikutnya.
0 komentar:
Posting Komentar