Kamis, 02 Januari 2025

Upacara Hari Kamis

 Pagi H+1 setelah tahun baru, di Pasuruan kali ini terasa sendu. Udara nggak sepanas biasanya. maklum, subuh tadi, gerimis turun pelan-pelan, semilir angin pun ikut menemani. Suasana begini memang cocok menikmati seduhan kopi pahit sembari melanjutkan buku yang sudah hampir 3 bulan ndak tamat-tamat. Tapi, niat baca itu seketika buyar gara-gara peristiwa kecil yang saya saksikan langsung dari depan kamar kos.

Anak Bapak kos, sebut saja namanya Simbul, yang harusnya sudah siap upacara bendera di Sekolahnya, tiba-tiba muncul di depan rumah tepat jam 06.57 pagi. Wajahnya kusut kanebo, langkahnya gontai, kayak abis ketahuan nyontek di kelas. Saya cuma bisa bengong sambil menerka-nerka, “Ini bocah kenapa lagi?” Belum sempat saya tebak, Simbul sudah bikin aksi teatrikal. Dengan penuh emosi, dia melempar topi merah putihnya ke depan pintu. Topi itu tergeletak begitu saja, dramatis.

Simbul diam, bungkam total. Dia cuma berdiri dengan tatapan penuh arti, membiarkan semesta menebak-nebak isi hatinya. Sementara itu, ayahnya yang lagi sibuk menyapu halaman mendadak berhenti. Dengan raut muka setengah penasaran, setengah kesal, beliau akhirnya bertanya:
"Opo o kok wis mulih isuk ngeneki? Isih prei ta? Bukane mari ngene upacara ta pean? (Kenapa pulang pagi-pagi begini? Masih libur ya? Bukannya sebentar lagi kamu upacara?)"

Simbul yang awalnya diam, tiba-tiba menjawab dengan nada penuh drama.
"Isin aku, Yah. Iki dino opooooo? (Malu aku, Yah. Ini hari apaaa?)"

Saya, yang lagi nyeruput kopi, langsung tersedak. Ini Kamis, Saudara-Saudara! Kamis, bukan Senin! Saya sampai meringis, nahan tawa mencoba tidak kelihatan terlalu bahagia di atas penderitaan orang lain.

Jadi begini, orang tua dan juga Simbul ternyata lupa kalau hari ini bukan Senin, alias bukan jadwal upacara bendera. Dengan penuh semangat 45, dia pakai full dress code seragam lengkap plus topi merah putih, hanya untuk menyadari bahwa semua itu sia-sia karena… ya, ini Kamis. Bukan Senin yang penuh penghormatan.

Setelah mengeluarkan teriakan dramatis tadi, Simbul nggak berhenti sampai di situ. Dalam waktu singkat, dia melempar tasnya ke lantai, lalu mulai membuka kancing seragam dan celananya di depan rumah. Entah sadar atau nggak, saya dapat tontonan dan hiburan gratis pagi itu. Tapi Simbul nggak peduli. Selain karena sudah malu berat dari sekolah, dia juga harus buru-buru balik ke sekolah sebelum terlambat.

Tanpa aba-aba lagi, ayahnya langsung menyeret dia masuk ke dalam rumah. Entah apa yang terjadi selanjutnya, tapi saya yakin ada perdebatan antara rasa malu dan kebutuhan untuk tetap sekolah.

Pagi ini, saya menyadari sesuatu: hidup memang penuh drama yang tidak terduga. Kadang, hidup memang sesimpel salah hari. Hal-hal kayak gini bikin kita sadar, tahun baru nggak harus diisi resolusi muluk-muluk. Cukup pastikan kalendermu nggak salah baca saja.

Rabu, 01 Januari 2025

Tahun Baru, Koyo, dan Refleksi Fase Dewasa

Tahun baru itu sekarang rasanya udah kayak Senin pagi. Gitu-gitu aja, tapi tetap datang. Kalau dulu, pas masih SD atau SMP, malam tahun baru tuh hebohnya minta ampun. Kembang api bertebaran, suara petasan bikin ibu-ibu kampung sebelah kirim surat protes, dan kita? Begadang sambil makan kacang rebus. Tidur jam 2 pagi pun dianggap biasa, yang penting seru-seruan.

Tapi sekarang? menginjak usia dewasa ini, antusiasme malam tahun baru udah nyusut kayak baju kesiram air panas. Mungkin karena sekarang beban hidup lebih terasa daripada suara petasan. Pikiran malam tahun baru bukan lagi soal “mau bikin resolusi apa,” tapi lebih ke “Resolusi tahun lalu aja belum ada yang kelar, apalagi bikin yang baru.”

Bayangin, malam pergantian tahun bukannya mikirin kembang api atau jagung bakar, malah sibuk merenung. Pikiran bercabang ke mana-mana: masalah kerjaan yang belum kelar, cicilan, tabungan nikah yang masih level "niat," sampai keinget pertanyaan horor dari bude pak de di acara keluarga, “Kapan undangannya nyusul?” Tahun 2024 ini, sumpah, terasa kayak lewat gitu aja. Baru nyadar bulan Januari, tahu-tahu udah Desember.

Dan malam tahun baru? Jangan bayangkan ada perayaan gegap gempita. Nyatanya, malam itu cuma dihabiskan dengan misi ke warung sembako buat beli susu, koyo, dan minyak oles. Alasannya sederhana: libur sehari tidur kelamaan bikin punggung kayak papan triplek. Akhirnya, bukannya menikmati malam, malah jadi pengingat betapa dewasanya kita sekarang—dewasanya punggung, maksudnya.

Tapi ya sudah, begitulah hidup. Mungkin kembang api udah nggak semenarik dulu, tapi susu hangat dan koyo ternyata punya daya magis tersendiri. Di tengah segala renungan dan punggung pegal, ada kenyamanan kecil yang membuat kita bertahan.

Jadi, selamat tahun baru buat sesama pejuang dewasa muda! Meski perayaan kita sekarang lebih sederhana, toh, maknanya nggak kalah besar. Karena siapa sangka, momen-momen kecil kayak beli koyo di malam tahun baru bisa jadi cerita lucu di tahun-tahun mendatang.

Minggu, 12 Desember 2021

Dari Konser Pertama Hingga Tiket Dirobek Karena Titipan Miras

 


Hari ini saya iseng buka facebook dan facebook mengigatkan momen tepat 7 tahun silam saya mengawali sebagai salah satu orang yang gemar ke konser musik. Berawal dari event konser yang saya abadikan inilah saya cukup banyak dan mulai suka menghadiri perhelatan musik dari berbagai genre mulai dari dangdut, reggae, punk, indie, hardcore hingga hadroh.

Momen 7 tahun lalu tersebut adalah konser musik reggae yang diadakan di alun- alun kota yang menjadi konser musik pertama saya.  

Konser musik reggae tersebut mengawali keberanian saya untuk mengunjungi event konser musik dengan datang sendiri, saya tidak mengajak teman ataupun diajak teman, murni keberanian diri untuk ingin tahu dan penasaran akan atmosfer saat nonton konser bagaimana, dan ternyata konser pertama saya tersebut memberikan dampak drastis pada pengalaman menikmati musik secara langsung yang tidak saya lupakan.

Dari konser ke konser, (walaupun hanya beberapa konser atau event musik saja yang saya kunjungi, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari) ada hal yang menyenangkan yang saya dapat, yakni merasakan atmosfer dalam menikmati musik secara bersama-sama dengan banyak orang sekaligus.

Meskipun antara satu individu dengan yang lain berbeda cara menikmatinya, seperti ada yang berjoget, ada yang hanya ingin duduk dan mendengarkan musik sambil mulut komat kamit mengikuti lirik, ada juga yang hanya berdiri mematung dan menimati situasi sekitar. Namun, feel saat menimati konser musik sangat berbeda dengan saat kita mendengarkan lagu sendirian melalui hp atau perangkat lain.

Faktor lain yang menyebabkan saya suka mengunjungi konser musik di 7 atau 5 tahun lalu adalah saya sangat suka bertemu orang baru. Hal ini bukan tanpa alasan melainkan ada tujuan oportunis, yakni untuk memperoleh informasi event musik yang akan diadakan untuk waktu yang akan datang.

Dari kenalan baru tersebut sering kali saya ditawari untuk nonton konser dan dapat gratisan tiket nonton. haha

Namun, bertemu dan berkenalan dengan orang baru di event konser musik mulai saya anggap skeptis saat setelah saya mengalami satu momen yang merugikan saya.

Satu momen tersebut adalah saya jadi salah satu orang salah tangkap anggota pengamanan konser karena gerombolan yang baru saya kenal dituduh membawa miras yang sebelumnya orang tidak dikenal titipkan kepada gerombolan kami.

Alhasil gerombolan yang baru saya kenal tersebut di tahan, sebagian tiket kami dirobek termasuk tiket saya dan beberapa diantaranya di backlist dari event tersebut. Karena memang sudah menjadi aturan dari penyelenggara bahwa setiap pengunjung dilarang membawa miras.  

Saat itu saya tidak tahu, atau mungkin terlalu polos bahwa botol aq*a yang dititipkan kepada salah orang dari gerombolan yang baru saya kenal tersebut berisi miras, saya hanya menduga bahwa botol tersebut berisi selayaknya air mineral biasa. Karena warnanya sama-sama bening.  haha

Namun setelah ingin masuk dan memeriksa tiket semua barang bawaan kami beserta isinya dibuka satu per satu, dan alhasil ketemulah benda itu.

Mulai dari peristiwa tersebut saya tidak lagi mau berkenalan dengan orang baru atau asing bagi saya di event musik dan akan pasti menolak jika ada orang yang menitipkan barangnya kepada saya.

Untung saja pada saat itu barang tersebut tidak ditipkan kepada saya, jadi saya tidak masuk daftar blacklist walaupun tetap saja tidak bisa masuk event karena tiket saya terlanjur dirobek dan tidak ada ganti rugi.

Sebagai upaya kami tetap menjelaskan bahwa barang tersebut bukan milik kami namun tetap saja pihak pengamanan tidak mau tahu soal itu. Dan alhasil saya dan beberapa orang di gerombolan yang baru saya kenal tersebut pulang dengan rasaya kecewa.

Peristiwa atau momen tersebut juga bisa menjadi pelajaran bagi kamu untuk lebih berhati-hati jika ingin pergi ke konser musik sendirian. dan jangan terlalu percaya dengan orang yang baru kamu kenal di event konser, apalagi orang yang baru kamu kenal tersebut tiba tiba menitipkan barang ke kamu.