Selasa, 04 Februari 2025

Pemantik

Bernapas, bergerak, makan, minum, kerja. Selayaknya menjalani perjalanan hidup, sering kali memaksa kita untuk terus bergerak, terus melangkah, terus bernapas, terus makan, terus kerja. Intinya terus hidup. Namun dalam usaha keberlangsungan ini adakalanya juga sering nglamun dan klemar klemer bingung mikir.  

Dan, saya berfikir bahwa untuk keberlangsungan hidup memang seharusnya ada pemantiknya. Pemantik dalam artian sebab hal yang bisa membuat kita menjadi bersemangat lagi. Pemantik yang bisa membuat kita lupa akan adanya beban yang harus tetap dipikul sampai beban tersebut menguap dan hilang. Atau, beban yang saat ini terpanggul semakin membuat otot tubuh kita menjadi makin kuat dan makin enteng. 

Pemantik seyogyanya penting. Tidak hanya bersumber pada diluar diri kita namun juga yang terpenting adalah dari dalam diri kita. Karena sering kali pemantik yang berasal dari luar kehendak diri kita banyak mblesetnya. Maka dari itu tumpuan pemantik semangat hidup yang dari internal diberi kita yang penting. Kita harus mencari atau bahkan memproduksi sendiri pemantik itu. 

Pemahaman akan diri kita sendiri menjadi penting. Namun susah. Betul kan? 

Jalan yang paling mudah untuk menemukan pemantik untuk menjaga keberlangsungan dan kewarasan diri adalah dengan kita tahu “saya sebenernya mau apa sih” atau apa yang mau dicapai, apa yang mau diraih, apa yang mau dicita citakan. 

Beberapa poin tersebut mungkin akan membantu. Tidak usah muluk muluk dengan keinginan, capaian, cita-cita yang besar dan ndakik-ndakik. Cukup yang simpel saja. Misalnya keinginan untuk jalan-jalan dengan motor kesayangan, makan enak, mandi bersih, tidur dengan sprei kasur yang setelah di laudry. 

Hal simpel tersebut cukup ampuh kepada saya. Dan ya, cukup sedikit membantu apa yang sebenarnya yang diri saya inginkan dan apa yang cukup menjadi pemantik “hidup” ketika saya sendang merasa bingung dan banyak nglamunnya. 

Mungkin secuil tips dan remeh tersebut bisa menjadi jalan dan “pemantik” antum pula untuk tambah sedikit bergairah dalam menjalani hari. 

Rabu, 15 Januari 2025

Uang saku yang kurang

 Ada saja gebrakan yang di lakukan oleh simbul. Ya, anak pemilik kos yang saya ceritakan sebelumnya. Pagi ini ia membuat drama tak mau berangkat sekolah karena uang sakunya kurang. Saya tahu karena ia pagi ini lagi-lagi mengasah keahliannya dalam berteatrikal di depan rumah.

Dasi merah yang sudah rapi menjadi melorot dan hampir lepas, pakaian yang sudah rapi licin tercerai berai keluar dari sabuknya, tas yang digendongnya luluh lantah beserta isi di lantai depan pintu, topi yang sedari tadi hinggap bertengger rapi di kepalanya, sekarang sudah menemani tas yang terkapar dilantai.

Sungguh menjadi satu hiburan dan kegelisahan tersendiri bagi saya yang menonton pertunjukkan yang dilakukan oleh satu bocah satu SD yang ginuk-ginuk ini. Menjadi hiburan dikarenakan memang lucu tingkah ngamuknya. Namun, menjadi satu kegelisahan mungkin nantinya saya akan menjadi orang tua dan harus merasa lumrah dan harus sabar akan tingkah laku anak saya nantinya.

Walau memang agak sabar menunggu emosinya reda. Dan syukurnya anak tetangga lain juga mau berangkat lewat rumahnya dan melihat Simbul menangis, lalu tiba-tiba menghampiri. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi ajaibnya, tangis Simbul perlahan mereda. Mungkin ia malu dilihat temannya. Setelah beberapa detik menimbang, akhirnya simbul menyerah pada nasib, menyeka air mata dengan ujung dasi. akhirnya ia legowo untuk berangkat sekolah.

Usahanya sia sia.

Mungkin jika drama yang ia buat berhasil, saya coba membayangkan betapa bahagianya ia di sekolah. mungkin, sudah memikirkan bahwa ia yang paling kaya diantara teman temannya karena uang sakunya pagi ini bertambah. Semua pedagang yang berderet di depan mungkin akan ia singgahi dan tinggal tunjuk saja, teman temannya yang ikut membersamainya akan ia traktir. Makan siang gratis dari pemerintah mungkin akan ia acuhkan pula.

Tapi imajinasi memang tinggal imajinasi. Realita yang terjadi tidak seperti yang diharapkan oleh Simbul. Ia tetap melanggang lemas berangkat menuju destinasi pembelajaran seperti biasanya, dengan uang saku yang "gagal optimal".

Simbul memang bocah kelas satu SD, tapi bakatnya di bidang seni peran teatrikal benar-benar layak iapresiasi. Kalau suatu hari ia muncul di layar kaca, ataupun ada video viral di akun youtubenya, saya bisa dengan bangga berkata, "Saya saksi pertama dari kebangkitan
kariernya."

Rabu, 08 Januari 2025

Euforia Timnas


Tahun ini memang tahunnya timnas buat jadi bahan perbincangan. Di mana-mana, dari beranda kos, warkop, depan Indomaret, sampai jadi bahan slentingan grup kerjaan. Atmosfer ini jelas saya rasakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Seingat memori saya, dari dulu-dulu jarang sekali ada yang niat menggelar acara nobar (nonton bareng) untuk pertandingan timnas. Paling pol ya nobar final Indonesia pas jamannya Evan Dimas. Tapi sekarang? Begitu kualifikasi Piala Dunia dimulai, tiap warkop, pos ronda, sampai pabrik mendadak jadi stadion mini. 

Ya, anda tidak salah baca, Di pabrik tempat saya kerja, banyak karyawan usul untuk diadakan nobar timnas di pabrik. Banyak karyawan yang biasanya minta hiburannya jam lembur, ini malah minta manajemen buat ngadain nobar timnas main kualifikasi piala dunia. Gak ketebak dolor.  

Tapi, di tengah euforia ini, ada berita yang bikin melongo: Shin Taeyong dipecat. DI-PECAT!. Lah, piye ceritane? Wong ini pelatih yang katanya sudah bikin timnas jadi lumayan manusiawi di mata dunia. Prestasi ada, progres juga nyata. Kok malah di "bebas tugaskan"? Saya, yang biasanya cuma buka berita bola pas Indonesia main, jadi ikutan kepo.  

Ini kabar yang menggemparkan memang. Di pabrik, topik ini jadi bahan utama diskusi di smoking area. Kalau biasanya buruh seperti saya ngomongin target kerja, jam lembur yang kurang, beban kerja yang tidak adil, event sound horex, sekarang malah ngomongin perkembangan timnas selepas STY dan berlagak jadi kayak pengamat bola ulung. 

Mulai analisa ngalor-ngidul, dari prestasi serta taktik STY, alasan kenapa dipecat, sampai ramalan masa depan Patrick Kluivert, pelatih pengganti yang katanya di interview langsung sama usernya yakni Pak Erick Thohir. Bung towel mungkin akan shock dengan analisa-analisa yang mencuat di forum tersebut jika ikut nimbrung.

Sebagai rakyat biasa yang nggak ngerti bola lebih dari sekadar "Timnas Indonesia Menang" saya cuma punya satu harapan: semoga dengan pelatih baru yang katanya "langsung interview User" ini, timnas bisa lolos ke ajang paling prestisius di planet bumi. Jangan cuma puas naik peringkat. Minimal, ya minimal banget lho ini, timnas kita bisa ngalahin Argentina lah. Wong arab saja kemarin bisa di "dua kosong"kan.

Topik Timnas ini sudah tak khayalnya seperti topik politik pilpres kemarin penuh kejutan dan konflik yang bikin kita betah jadi komentator setia. Yang penting, apapun yang terjadi, wong cilik seperti saya tetap setia mendukung sambil sesekali ngrasani. Maju terus, Garuda! Jangan lupa oleh-oleh Tacos Los Palomos kalau dah balik dari LA.