Minggu, 12 Desember 2021

Dari Konser Pertama Hingga Tiket Dirobek Karena Titipan Miras

 


Hari ini saya iseng buka facebook dan facebook mengigatkan momen tepat 7 tahun silam saya mengawali sebagai salah satu orang yang gemar ke konser musik. Berawal dari event konser yang saya abadikan inilah saya cukup banyak dan mulai suka menghadiri perhelatan musik dari berbagai genre mulai dari dangdut, reggae, punk, indie, hardcore hingga hadroh.

Momen 7 tahun lalu tersebut adalah konser musik reggae yang diadakan di alun- alun kota yang menjadi konser musik pertama saya.  

Konser musik reggae tersebut mengawali keberanian saya untuk mengunjungi event konser musik dengan datang sendiri, saya tidak mengajak teman ataupun diajak teman, murni keberanian diri untuk ingin tahu dan penasaran akan atmosfer saat nonton konser bagaimana, dan ternyata konser pertama saya tersebut memberikan dampak drastis pada pengalaman menikmati musik secara langsung yang tidak saya lupakan.

Dari konser ke konser, (walaupun hanya beberapa konser atau event musik saja yang saya kunjungi, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari) ada hal yang menyenangkan yang saya dapat, yakni merasakan atmosfer dalam menikmati musik secara bersama-sama dengan banyak orang sekaligus.

Meskipun antara satu individu dengan yang lain berbeda cara menikmatinya, seperti ada yang berjoget, ada yang hanya ingin duduk dan mendengarkan musik sambil mulut komat kamit mengikuti lirik, ada juga yang hanya berdiri mematung dan menimati situasi sekitar. Namun, feel saat menimati konser musik sangat berbeda dengan saat kita mendengarkan lagu sendirian melalui hp atau perangkat lain.

Faktor lain yang menyebabkan saya suka mengunjungi konser musik di 7 atau 5 tahun lalu adalah saya sangat suka bertemu orang baru. Hal ini bukan tanpa alasan melainkan ada tujuan oportunis, yakni untuk memperoleh informasi event musik yang akan diadakan untuk waktu yang akan datang.

Dari kenalan baru tersebut sering kali saya ditawari untuk nonton konser dan dapat gratisan tiket nonton. haha

Namun, bertemu dan berkenalan dengan orang baru di event konser musik mulai saya anggap skeptis saat setelah saya mengalami satu momen yang merugikan saya.

Satu momen tersebut adalah saya jadi salah satu orang salah tangkap anggota pengamanan konser karena gerombolan yang baru saya kenal dituduh membawa miras yang sebelumnya orang tidak dikenal titipkan kepada gerombolan kami.

Alhasil gerombolan yang baru saya kenal tersebut di tahan, sebagian tiket kami dirobek termasuk tiket saya dan beberapa diantaranya di backlist dari event tersebut. Karena memang sudah menjadi aturan dari penyelenggara bahwa setiap pengunjung dilarang membawa miras.  

Saat itu saya tidak tahu, atau mungkin terlalu polos bahwa botol aq*a yang dititipkan kepada salah orang dari gerombolan yang baru saya kenal tersebut berisi miras, saya hanya menduga bahwa botol tersebut berisi selayaknya air mineral biasa. Karena warnanya sama-sama bening.  haha

Namun setelah ingin masuk dan memeriksa tiket semua barang bawaan kami beserta isinya dibuka satu per satu, dan alhasil ketemulah benda itu.

Mulai dari peristiwa tersebut saya tidak lagi mau berkenalan dengan orang baru atau asing bagi saya di event musik dan akan pasti menolak jika ada orang yang menitipkan barangnya kepada saya.

Untung saja pada saat itu barang tersebut tidak ditipkan kepada saya, jadi saya tidak masuk daftar blacklist walaupun tetap saja tidak bisa masuk event karena tiket saya terlanjur dirobek dan tidak ada ganti rugi.

Sebagai upaya kami tetap menjelaskan bahwa barang tersebut bukan milik kami namun tetap saja pihak pengamanan tidak mau tahu soal itu. Dan alhasil saya dan beberapa orang di gerombolan yang baru saya kenal tersebut pulang dengan rasaya kecewa.

Peristiwa atau momen tersebut juga bisa menjadi pelajaran bagi kamu untuk lebih berhati-hati jika ingin pergi ke konser musik sendirian. dan jangan terlalu percaya dengan orang yang baru kamu kenal di event konser, apalagi orang yang baru kamu kenal tersebut tiba tiba menitipkan barang ke kamu.

Rabu, 12 Mei 2021

Sabtu, 28 November 2020

Kecewa Kepada Tuhan dan Memutuskan Melacur



Resensi Buku
Judul : Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit :Scripta Manent
Kota Terbit :Yogyakarta
Tahun Terbit :2003 (Cetakan 16, Maret 2016)
Tebal Buku : 269 halaman




Edan!!,

    Satu kata yang dalam batin saya secara spontan mencuat saat setelah menyelesaikan buku ini. sungguh hati dan pikiran saya dibuat berkecamuk saat membaca dan menuntaskan buku ini. Buku ini saya tuntaskan rentang waktu setengah hari (buku pertama yang saya selesaikan tidak lebih dari sehari). Terkadang saya hanya mentok menyelesaikan buku yang saya baca 2 hari. Namun, sepertinya buku ini sangat eman untuk saya lewatkan dihari besok, untuk itu saya harus selesaikan hari ini juga. 

    Saya tidak ingin memeberikan rentetan cerita banyak dari buku ini. Namun, hanya secuil saja gambaran besar sinopsis dari buku ini yang dapat saya bagikan, agar tidak terlalu spoiler. 

    Buku ini menceritakan seroang perempuan, bernama Nidah Kirani. Yang pada awalnya adalah seorang muslimah alias Ukhti yang sangat berambisi dengan ajaran Agama Islam. Ambisius dalam berkeislamannya ini nantinya akan mengantarkannya kepada keputusannya untuk masuk organisasi yang bercita-cita ingin menegakkan daulah Islamiyah di Indonesia. Namun, lambat laun keputusannya tesebut malah menjadikannya kecewa. Rasa kecewa itu diikuti pula dengan semakin menurunnya iman bagi Nidah Kirani. Hal tesebut yang menjadikannya berada dititik dimana dia beralih mengutuk tuhan atas apa yang sebelumnya terjadi. Hingga akhirnya dia memutuskan menjadi pelacur . 

    Saya dibuat benar benar terpana, bingung, resah dan pusing secara bersamaan. Terpana oleh cerita-cerita yang sangat diluar batas pandangan saya. Bingung dengan apa saya harus memahami paragraf demi paragraf dari buku ini, karena bagi pembaca pemula seperti saya lumayan susah untuk memahaminya (banyak diksi yang diluar pengetahuan saya), butuh beberapa kali saya membaca ulang kembali paragraf demi paragraf untuk sekadar tau jalan ceritanya, belum sampai memahami makna apa yang ada dalam ceritanya. 

    Resah pula dengan beberapa perspektif yang diceritakan oleh Nadiah Kirani tokoh utama dari buku tersebut, iman saya serasa diterpa ombak, dibenturkan karang, hanyut, lalu terhempas angin laut dan berakhir kembali ke tempian pantai. 
    
    Pusing atas gejolak iman dari timbulnya rasa resah tersebut, batin dan pikir saya seperti sedang beradu pendapat, “benar juga ya? Masak iya sih? Ah jangan dulu mengamini! Eh, tapi ada benarnya juga ding, ah sebentar, kamu perlu pandangan lain, jangan tergesa, ah ini Cuma buku, tidak ini tidak sekadar buku, ini memang hidup”. Begitulah berkecamuknya pikiran dan batin saya, sampai membuat saya sedikit pusing. Namun, dalam buku ini tidak condong pada kata-kata yang frontal mengarah ke seksualitas , hanya judulnya saja yang "sedikit" kontroversional. 

    Sungguh, buku ini benar-benar membuka pandangan saya hal baru, hal yang benar-benar belum saya jamah sama sekali, menanyakan eksistensi dari hidup, tentang kebebasan, takdir, kehendak tuhan, tentang feminisme, kemunafikan piramida sosial, dan banyak lagi. 

    Jika saya terkesan meromantisasi buku ini, menurut saya ini adalah hal wajar bagi saya. Maklum saya pembaca pemula, tidak terlampau jauh literasi saya mencapai topik topik dalam bahasan yang serupa. Ya jadi tidak ada masalah yang berarti bagi saya untuk meromantisasi sebuah buku. 
    
    Jika anda tertarik pada buku ini, maka saya pribadi memberikan rekomendasi kepada anda untuk membaca buku ini. namun, dengan catatan anda bukan seorang pembaca yang baperan. hehe pissss :D

sumber gambar :tomihernawan.tumblr.com

Resensi buku lain dapat dibaca di laman "Gedebook"